Profil Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa FK UGM

Sejarah

Lebih dari tiga dekade berdirinya Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa FK UGM Yogyakarta. Sebuah perjalanan panjang telah dilalui untuk bisa bertahan seperti sekarang ini. Latar belakang berdirinya Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa FK UGM seperti halnya di tempat lain dimulai dan Rumah Sakit Jiwa. Sampai dengan tahun 1950 di Yogyakarta  hanya Rumah Sakit Lali Jiwa di Pakem yang berkecimpung dalam Bidang Psikiatri. Pada tahun 1950 berdiri Universitas Gadjah Mada dengan Fak. Kedokterannya dimana ada bagian Neurologi dan Psikiatri yang masih menyatu dengan bagian Interna di R.S. Pugeran Yogya. Bagian Neurologi dan Psikiatri dipimpin oleh Kepala R.S. Jiwa Pusat Kramat Magelang, yang datang sekali seminggu di R.S. Pugeran untuk memberi kuliah, pelayanan dan menangani pekerjaan administrasi. Kuliah diberikan 2 jam dalam seminggu, terdiri dan teori dan presentasi kasus.

Pada tahun 1950  berdiri Universitas Gadjah Mada dengan Fak. Kedokterannya. Pada saat itu bagian Neurologi dan Psikiatri yang  masih jadi satu  dengan bagian  Interna di R.S. Pugeran Yogya. Bagian Neurologi dan Psikiatri dipimpin oleh Kepala R.S.  Jiwa Pusat  Kramat Magelang, yang datang sekali seminggu di R.S. Pugeran untuk memberi kuliah, pelayanan  dan menangani  pekerjaan administrasi. Kuliah diberikan oleh dr. Suroso selama 2 jam dalam seminggu, terdiri  dari teori  dan presentasi kasus

Pada awal tahun 1960an, Prof Kluge diminta  Fakultas Kedokteran  UGM untuk  membangun  Bagian Syaraf-Jiwa Fakultas Kedokteran UGM.  Oleh senat UGM dr Kluge  diangkat  jadi Guru Besar  dibidang  Psikiatri (meskipun tetap  sebagai Kepala Bagian Syaraf-Jiwa Fakultas Kedokteran UGM ).

Baru pada tahun 1962 Bagian Neurologi Psikiatri FK. UGM memiliki tempat sendiri dan dipimpin oleh seorang Psikiater Neurolog sebagai tenaga tetap. Pada bulan September 1963 Bagian Neurologi memisahkan diri dan Penyakit Dalam, dibawah pimpinan Prof. Kluge yang bertempat tinggal di Magelang. Pada bulan Februani 1964 pimpinan diserahterimakan dari prof. Kluge kepada Prof dr Tahitoe.

Kemudian Bagian Syaraf-Jiwa dipimpin oleh Prof DR. Tahitoe. Prof Tahitoe juga sosok yang patut diteladani. Pria asal Indonesia Timur ini sangat bersemangat bila mengajar. Ia selalu menekankan ajaran moral dan profesionalisme. Bila mengajar sangat simple dan sistematis, sehingga mudah dicerna anak didiknya. Prof DR. Tahitoe memimpin sampai tahun 1968 kemudian diserahkan pada dr. R.Soejono Prawiroharjo pada bulan  Oktober 1968. Pada bulan Januari 1977 Neurologi Psikiatri dipisah , menjadi bagian Neurologi di pimpin oleh dr.Suharso dan Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa di pimpin oleh dr R. Soejono Prawiroharjo.  Pada tanggal 12 September 1981 Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa masuk kampus UGM, menjadi Unit Bagian Jiwa RSUP Dr. Sardjito.

Adapun nama-nama yang menjadi Kepala Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK UGM adalah sebagai benkut:

Tahun 1977     : Prof.dr.Soejono. Prawiroharjo. Sp.S, Sp.KJ

Tahun 1983     : Prof.Dr.Ibrahim Nuhriawangsa, Sp.S, Sp.KJ

Tahun 1986     : dr. Suradja, Sp.S, Sp.KJ

Tahun 1988     : dr. Sumarno W.S. Sp.KJ, Ph.D

Tahun 1990     : dr. Suradja, Sp.S, Sp.KJ

Tahun 1998     : dr. Sumarno W.S. Sp.KJ, Ph.D

Tahun 2002    : Prof. Dr. Dr. Soewadi, MPH, Sp.KJ(K)

Tahun 2004    : dr. Cecep Sugeng K, Sp.KJ(K)

Tahun 2009    : dr. Cecep Sugeng K, Sp.KJ(K)

Tahun 2014     : dr. Mahar Agusno, Sp.KJ(K)

Tahun 2016 sebagai Kepala Departemen Ilmu Kedokteran jiwa yang baru, dimulai pada bulan Januari 2016, dipimpin oleh Dr. dr. Carla R. Marchira, SpKJ (K).

Melihat dari sejarah perkembangan Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa FK UGM, nampak peran besar yang dilakukan dalam pengembangan keilmuan, pendidikan, maupun pengabdian masyarakat. Lulusan Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK UGM telah tersebar di berbagai pusat pendidikan maupun pusat pelayanan kesehatan jiwa, baik milik pemerintah, swasta, maupun militer. Melalui penelusuran ini, kami ingin mengetahui kiprah para lulusan Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK UGM. Kami juga ingin menilai kesesuaian antara pendidikan dan pelatihan yang diberikan selama masa pendidikan dengan kebutuhan stakeholder dan praktek nyata.